Saham Grup Barito Anjlok Setelah JP Morgan Pangkas Peringkat Barito Pacific (BRPT)

Trio saham Grup Barito kompak merosot pada perdagangan Kamis (14/12). Di mana, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) juga PT
Barito Renewables Energy Tbk (BREN) anjlok tambahan dari 2,5%

Pada pembukaan perdagangan kemarin, saham BRPT merosot 5,56% ke kedudukan Rupiah 1.615. TPIA melemah 2,72% ke nilai Simbol Rupiah 4.650, sedangkan BREN turun 4,95% ke level Mata Uang Rupiah 7.200 per saham.

Ketiga nilai saham milik taipan Prajogo Pangestu itu jatuh, sejalan dengan riset terbaru JP Morgan yang memangkas peringkat BRPT dari sebelumnya netral menjadi underweight. Sebagai induk Grup Barito, BRPT sudah pernah naik tambahan dari 60% sejak 2 November 2023, terpencil mengungguli performa Ukuran Harga Saham Gabungan (IHSG).

Lonjakan yang dimaksud terdorong oleh dua saham anak bisnis BRPT, yakni BREN dan juga TPIA. JP Morgan menguraikan, BREN mencakup 56% sum of the parts (SOTP) lalu TPIA sebesar 39% dari SOTP. Rasio EBITDA dari BREN juga TPIA ketika ini melebihi 100 kali.

Tapi, JP Morgan memandang lonjakan pada saham BREN serta TPIA tak sebanding dengan pembaharuan substansial di prospek pertumbuhan keduanya. Sehingga tampak tidak ada berkelanjutan di jangka waktu 12 bulan ke depan.

“Kami tak meninjau adanya pembaharuan penting pada prospek perkembangan TPIA lalu BREN. Hal ini akan mengarahkan risk/reward ke sisi negatif bagi BRPT,” ungkap riset tersebut.

JP Morgan memperkirakan dengan spread Polyethylene (PE) / Polypropylene (PP) yang digunakan lemah akan menyebabkan pemulihan kinerja keuangan TPIA berjalan lambat. Spread PE/PP pada tahun 2024 diperkirakan di dalam bawah level pertengahan siklus pada level US$ 400 – US$ 420 per ton, didorong oleh penambahan kapasitas serta banyaknya permintaan.

Dengan begitu, return on invested capital akan berada pada kisaran 3%-4% dibandingkan 15%-20% di periode kenaikan siklus. Price to book value pun 7 kali lebih lanjut tinggi dibandingkan peers di tempat regional ASEAN dengan book value di area bawah 1 kali.

Sementara itu, BREN telah lama mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi 100% Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap berkapasitas 75 Megawatt (MW). Namun aksi yang dimaksud hanya sekali akan menciptakan pendapatan tambahan kurang dari 10% – 2% bagi BREN.

JP Morgan memproyeksikan peningkatan kapasitas compounded annual growth rate (CAGR) BREN sebesar 6% pada tahun 2023-2027. Estimasi ini tak sejalan dengan profil EBITDA yang di area berhadapan dengan 100 kali.

“Kami yakin risk/reward pada kepemilikan portofolio utama, BREN dan juga TPIA, cenderung mengarah ke bawah dengan EBITDA >100x tanpa adanya inovasi signifikan di prospek pertumbuhan, sehingga kami menurunkan peringkat BRPT,” imbuh JP Morgan.

Meski BRPT turun peringkat dari netral ke underweights, namun JP Morgan tetap memperlihatkan mempertahankan target harganya pada level Simbol Rupiah 1.100 per saham. Sekadar mengingatkan, underweight merupakan istilah di perdagangan saham, yang dimaksud diprediksi akan mengalami penurunan nilai tukar dibandingkan saham lainnya pada satu sektor yang sama.