Kenaikan Saham Bank Jago (ARTO) Ditopang Pengembangan Usaha TikTok ke Tokopedia
. Langkah TikTok yang dimaksud akan menginvestasikan lebih lanjut dari US$ 1,5 miliar kemudian mengakuisisi 75,01% saham Tokopedia sudah pernah berdampak pada pergerakan saham PT Bank Jago Tbk (ARTO). Bank yang terintegrasi dengan ekosistem GOTO yang disebutkan terlibat tersengat naik.
Pada perdagangan Kamis (14/12), saham ARTO sudah ada menguat naik 8,55% selama sepekan. Di mana, saat ini biaya saham Bank Jago ada di dalam level Simbol Rupiah 3.330 per saham.
Kenaikan saham ARTO terbesar terjadi pada Selasa (12/12). Di mana saham ARTO melonjak 15%. Itu sejalan dengan hari pertama dalam mana Tiktok lalu Tokopedia resmi bergabung.
Meski demikian, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy bergabungnya Tiktok ini tak akan terus-menerus berdampak positif bagi kinerja saham ARTO. Saat ini, hanya saja kebetulan ada sentimen positif.
Ia bilang kenaikan ini tapi hanya sekali bersifat sementara sebab GOTO dinilai mempunyai runway yang lebih besar panjang. Hanya, perlu diingat juga bahwa ARTO tak jika bakar uang lagi.
“Untuk trader, silahkan jikalau hendak masuk lantaran telah dapat momentum,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa untuk jangka panjang itu akan sangat tergantung pada manajemen Tiktok. Apakah hendak bekerja identik juga dengan ARTO atau justru dengan bank lain.
Di sisi lain, ARTO ini masih belum menyamai kinerja bank-bank besar yang mana ketika ini telah ada. Meskipun, secara fundamental kinerja ARTO mulai membaik.
“Dalam jangka pendek, dugaan saya dampak masuknya Tiktok terhadap kontribusi GOTO ke ARTO belum signifikan,” ujarnya.
Sebagai informasi, ketika ini penyaluran kredit melalui biosfer GOTO baru sekitar 8% hingga 9%. Untuk September 2023, total kredit Bank Jago senilai Rupiah 10,9 triliun.
Sementara itu, Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menilai bahwa saham ARTO ketika ini telah konsolidasi sejak beberapa hari tersengat sentimen Tiktok. Di mana, itu sudah ada di tempat priced ini oleh pangsa ketika ini.
Di sisi lain, ia juga menilai ARTO ketika ini belum menjadi pilihan yang mana menarik untuk investasi, khususnya pada sektor perbankan.
“ARTO sudah ada terlalu overvalued,” ucapannya singkat.